Make your own free website on Tripod.com

Thomas Alva Edison

Penemu Listrik





Thomas Alva Edison adalah seorang penemu yang sangat berjasa. Hasil penemuannya dapat kita rasakan pada saat ini. Beliau memiliki usaha yang sangat keras dalam mencapai cita-citanya.



Thomas Alva Edison lahir pada tanggal 15 februari 1847. Ibunya merupakan seorang guru, tetapi setelah melahirkan Thomas, ia berhenti dari pekerjaannya itu. Sejak kecil thomas senang memperhatikan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh orang dewasa dan tidak jarang ia melontarkan pertanyaan mengapa, bagaimana, dan lainnya pada orang yang mengerjakannya dan tidak jarang pula orang yang mendapatkan pertanyaan darinya tak dapat

menjawab. Ketika menginjak usia enam tahun, Thomas dimasukkan oleh orangtuanya ke sekolah dasar. Di sekolah, ia jarang sekali memperhatikan guru menerangkan pelajaran, ia terlihat melamun saja. Karena sikapnya itu, Thomas belum bisa membaca, menulis, dan menghitung walaupun teman-temannya telah dapat melakukan hal itu. Gurunya memberitahukan kepada orangtua Thomas bahwa anaknya berotak udang dan beku seperti batu. Mendengar hal itu, orangtua Thomas mengeluarkan anaknya dari sekolah. Namun, kedua orangtua Thomas tidak percaya jika anaknya seperti itu.

Karena Thomas tidak bersekolah lagi, akhirnya ibu Thomas yang mantan seorang guru mengajar anaknya sendiri di rumah. Dengan dibimbing oleh ibunya sendiri, ternyata Thomas dapat belajar dengan baik. Baru belajar satu bulan, ia sudah pintar membaca dan menulis. Pada suatu hari ibunya terkejut melihat Thomas sedang membaca buku karangan Gibbon yang berjudul "Decline and Fall of The Roman Empire. Hal terebut diceritakan ibunya pada ayahnya. Maka berkatalah ayahnya : "kalau demikian, baiklah kita belikan ia buku banyak-banyak. Biar ia belajar sendiri saja di bawah pimpinanmu, engkau kan guru." Ketika Thomas dibawa ke sebuah toko buku, berkatalah ia :"Ayah belikan Thom buku-buku ilmu alam yang banyak. Aku ingin membaca buku-buku itu." Ayahnya pun mengangguk sambil berkata, "Akan aku belikan engkau macam-macam buku asalkan engkau mau rajin membaca."

Semua buku-buku yang telah dibelikan orangtuanya ia baca hingga tamat dan ia sangat tertarik dengan buku-buku ilmu alam dan buku ilmu kimia. Selain dibaca, buku-buku tersebut ia pelajari dengan teliti dan bagian percobaan dari buku tersebut ia hapal dengan baik karena ia ingi mengadakan percobaan! ia ingin membuktikan kebenaran teori yang ada dalam buku. Thomas melakukan percobaan di dalam sebuah ruangan di bawah tanah. Ia dapat membeli berbagai bahan kimia dari uang jajannya yang ia sisihkan.

Semakin hari, semakin banyak pula percobaan yang ingin Thomas lakukan. Untuk itu, ia membutuhkan uang yang lebih banyak lagi. Ia membutuhkan buku-buku, alat-alat kimia, dan bahan-bahan kimia. Karena semakin banyak uang yang diperlukan, maka terpaksa Thomas menjadi seorang penjual koran. Ia berjualan koran di atas kereta api Grand Trunk Railway. Pekerjaan menjadi seorang penjual koran cukup berat dan meletihkan. Namun demikian, ia tetap senang karena ia dapat membeli bahan-bahan yang diperlukan untuk experimennya.

Pergi meninggalkan tempat tinggal

Ketika berumur dua puluh tahun, Thomas ingin sekali pergi ke kota New York. Maka berkatalah ia kepada orangtuanya,"Ibu dan ayah, aku ingin ke New York yang besar dan ramai itu." "Apa yang menarik perhatianmu Thom?",kata ayahnya. "Aku ingin menambah pengalaman hidup. Di sana aku akan bekerja. Ada teman yang sudah di sana. Aku tak akan kesasar sebab aku akan diberi tempat tumpangan oleh temanku", jawab Thomas.

Thomas pun beranjak pergi ke New York. Setelah tiba di New York, ia tidak memiliki uang sepeser pun. Namun demikian, ia tidak ingin meminta uang pada orang lain, ia maklum orangtuanya tidak memiliki uang. Ayahnya seorang pegawai kecil, jika habis bulan, maka habis pula gajinya. Mereka sekeluarga hidup sederhana, tidak berlebihan seperti orang-orang kaya. Ditambah lagi ibunya banyak memerlukan uang untuk biaya pengobatan karena sering sakit. Dengan kantong kosong, Thom berangkat menuju tempat tujuan, tetapi ia tetap senang.

Di New York, ia berusaha mencari tempat tinggal temannya, seorang juru jaga telegraph. Ia mencari ke sana ke mari, namun baru tengah hari ia dapat berjumpa dengan temannya itu. Oleh temannya yang ternyata belum memiliki pekerjaan itu, Thom diberi pinjam uang satu Dollar untuk makan. Setelah selesai makan ia pergi untuk mencari pekerjaan.

Usaha untuk mencari pekerjaan ternyata dirasakan cukup sulit. Thomas banyak mendatangi perusahaan-perusahaan, namun ia belum juga mendapatkan pekerjaan. Karena itu, berhari-hari ia mengukur jalan di New York. Badannya menjadi kurus, tempat tidurnya tak tentu. Kadang-kadang ia tidur di tempat temannya yang baru ia kenal yang juga bernasib sama dengan dirinya. Dalam keadaan terlunta-lunta itu, timbul Kekhawatiran pada dirinya akan mati kelaparan. Teringatlah ia pada kedua orangtuanya. Namun ia tak ingin pulang dalam keadaan seperti itu.

Penderitaan berakhir

Semenjak ditolak di perusahaan Gold and Stock Telegraph Company, Thom diperbolehkan tidur di perusahaan tersebut dengan tanpa makan. Pada suatu hari, ketika perusahaan itu mulai akan bekerja seperti biasanya, salah seorang buruh perusahaan ada yang berteriak-teriak. Ternyata mesin di perusahaan tersebut mengalami kerusakan. Montir-montir dipanggil untuk memperbaikinya, namun tetap sia-sia saja. Akhirnya para buruh memanggil Dr. Laws, wakil presiden perusahaan tersebut. Bapak ini datang dengan bergegas dan sambil marah karena mesin yang rusak tidak dapat diperbaiki. Pada saat ini, Thomas datang menghampiri bapak tadi dan menawarkan bantuan untuk mencoba memperbaiki mesin. Pada awalnya wakil presiden perusahaan tersebut ragu, namun akhirnya ia memberi kesempatan pada Thom untuk memperbaiki mesin tersebut tetapi harus bekerja dengan cepat.

Thomas pun masuk ke dalam kamar mesin. Ia menyelidiki mesin itu dengan teliti. Hanya dalam waktu 5 menit saja ia sudah dapat menemukan penyebab kerusakan mesin itu. Sebuah per mesin itu patah dan masuk ke tengah roda. Wakil presiden perusahaan itu pun lega. Dengan muka yang dihiasi senyum, Dr. Laws mengundan Thomas ke kantornya. Di sana ia berkata,"Sejak hari ini engkau ku angkat menjadi pengawas mesin perusahaan kami. Gajimu setiap bulan 300 dollar, dan akan dibayar sekarang juga."

Betapa gembiranya Thomas karena pada hari itu berakhirlah penderitaannya. Hari itu juga ia mengirim uang pada ibu dan bapaknya dan sebuah surat. Di dalam surat itu ia menceritakan pengalamannya selama ada di New York.

Suatu Penemuan

Setelah mendapat pekerjaan, Thom hidup dengan berkecukupan. Ia tidak hidup prihatin lagi. Selain itu, ia juga dapat mengirim uang pada orangtuanya. Dengan penghasilannya itu ia membuat sebuah bengkel agar pada waktu senggang ia dapat melakukan experimen.

Suatu hari datanglah ide yang membawa ia pada kejayaannya. Ia berencana untuk membuat mesin yang lebih baik bagi perusahaannya. Ia ingin membuktikan pada majikannya bahwa ia adalah seorang yang bertanggung jawab dan suka akan penemuan baru.

Setelah merencanakan dengan matang dan membuat gambarnya. Thomas menyuruh para pekerja yang ada di bengkelnya untuk mulai membuat benda yang mereka sendiri tidak mengerti untuk apa benda tersebut dibuat. Setelah benda itu selesai dibuat, dinyalakannyalah mesin tersebut dan dapat bekerja lebih baik dari mesin yang ada sebelumnya di perusahaan. Thomas sendiri hampir tidak percaya bahwa ia dapat menciptakan mesin yang lebih baik dari mesin majikannya.

Dari hasil karyanya itu, ia mendapatkan banyak uang dan juga semakin disayangi majikannya. Setelah beberapa bulan kemudian, ia meminang seorang gadis menjadi istrinya.

Penemuan yang menggemparkan

Sejak saat membuat mesin yang lebih baik bagi perusahaannya, Thomas memiliki lebih banyak uang dan dapat membeli lebih banyak lagi alat dan bahan yang ia butuhkan untuk melakukan experimen-experimennya. Pada suatu hari ia berpendapat bahwa suara manusia, binatang, dan bunyi apa saja bisa disimpan lalu diperdengarkan lagi. Untuk itu, ia lalu merencanakan untuk membuat mesin tersebut.

Setelah perencanaan telah siap, ia memerintahkan pada montirnya yang terpandai yaitu John Kreusi untuk membuatkan mesin tersebut. Ketika melihat bagan mesin itu, John bertanya,"mesin apa ini?" "mesin bicara",jawab Thom. Mendengar jawaban Thomas, sang montir menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata,"Mustahil,tuan Thomas. Saya katakan mustahil sebab ide tuan terlalu aneh dan tidak masuk akal." "kerjakan saja John. Bila telah selesai barulah kita mengatakan mustahil atau tidak," kata Thomas setengah memerintah.

John Kreusi membawa bagan mesin tersebut ke bengkel dan bersama rekan kerjanya mulai membuat mesin tersebut. Tiga puluh jam kemudian, John Kreusi membawa sebuah mesin berbentuk aneh dan kasar pada Thomas. Pada saat itu Thomas hendak mencoba mesin tersebut. Semua pekerja bengkel Thomas berkumpul hendak mendengarkan mesin bicara. Mereka saling bertanya apakah majikan mereka akan sukses atau tidak.

Mesin tersebut diletakkan di atas meja. Kemudian Thom memutar pemutarnya lambat-lambat. Ia memutar sambil berbicara : "Mery mempunyai seekor biri-biri. Biri-biri itu berbulu tebal. Setiap tahun ia memberi wol kepada Mery." Kepala bengkel dan seluruh pekerja tertawa mendengar suara itu.

Setelah selesai memutar, Thomas pun menurunkan jarum pada tempat permulaan pidatonya. Setelah itu ia memutar lagi alat pemutar mesin tersebut. Ketika itulah pekerja-pekerja bengkel mendengar kembali suara yang sebelumnya diucapkan oleh Thomas. Semua orang di ruangan tersebut bersorak. Mereka merasa gembira dan heran dengan penemuan majikannya.

Pada keesokan harinya, Menlo Park New Jersey menjadi ramai dan penuh sesak dengan manusia karena penduduk hendak mendengarkan mesin bicara yang dibuat oleh Thomas. Hari-hari berikutnya Thomas terus berusaha untuk memperbaiki kualitas mesin bicaranya hingga orang-orang yang gemar puisi berkata,"Thomas Alva Edison telah menjadikan keinginan penyair Tennyson yang ingin menyimpan suara."

Penemuan Lampu Listrik

Walaupun banyak surat kabar yang telah menulis tentang hasil penemuannya yaitu mesin bicara, Thomas tidak merasa puas dengan penemuan-penemuannya itu. Ia tak mau berhenti untuk mencari penemuan-penemuan yang baru. Ia memiliki pendirian, jika sudah mati baru berhenti mencari.

Pada suatu hari Thomas mengambil keputusan untuk mempelajari bagaimana lampu gas bekerja. Ia membaca banyak sekali buku mengenai lampu gas tanpa merasa bosan. Setelah itu, mulailah ia bekerja dan mengadakan percobaan. Pada waktu pertama kali, ia tidak mendapat hasil yang memuaskan karena lampu pijar yang diidam-idamkannya tidak jadi-jadi. Untuk mendapat kepijaran lampu, ia melakukan percobaan dengan lidi-lidi yang dibuat dari kertas. Lidi tersebut dibalutnya dengan aspal dan jelaga, namun sayang hanya dapat menyala selama 15 menit saja. Ia tidak merasa puas dengan hasil penemuannya itu. Selanjutnya ia membuat bagian pembakar dari platina. Ketika disambungkan dengan stroom (arus) timbullah nyala, namun sayang nyala tersebut sangat suram. Melihat nyala yang suram tersebut, disuruhnya John Kreusi untuk menambahkan arus, tetapi lampunya meledak. Kegagalan ini membuat banyak orang yang lupa akan penemuannya, yaitu gramofon. Mereka memaki-makinya dalam koran-koran. Makian-makian itu tidak melumpuhkan semangat Thomas untuk terus berusaha. Justru ia berkata,"Mereka yang memaki dan mengkritik itu adalah kawan sejati. Bukan semua kritik itu mematikan semangat seseorang dan orang yang memuji itu belum tentu kawan yang baik."

Sejak ia mengalami kegagalan karena lampunya meledak, ia bekerja lebih keras lagi. Ia terus-menerus mengadakan experimen dan mencari sebab-sebab kegagalannya. Ia bekerja tanpa merasa bosan dan capek.

Tiga bulan selanjutnya, Pada suatu hari ia meminta pada montir-montirnya satu kumparan benang untuk dijadikan tempat aliran listrik. Kemudian diambilnya benang itu sedikit, dibengkokkan hingga menyerupai tapak kaki kuda, lalu dimasukkannya ke dalam cairan nikkel. Kemudian benang tersebut dimasukkan sekali ke dalam tungku selama 5 jam.

Setelah dingin, benang tersebut dilem ke dalam tabung kaca yang udaranya sudah dihampakan. Setelah itu dipatri. Ketika stroom listrik dihidupkan tampaklah cahaya yang terang benderang. Thomas sukses kembali. Lampu tersebut dapat menyala selama 40 jam. Kesuksesan ini menutup mulut orang-orang yang dulu memaki dan mencemoohkannya.

Penemuan tersebut oleh Thomas sendiri dianggap belum sempurna. Oleh sebab itu dicarinya bahan lain yang lebih baik daripada benang supaya dapat menyala lebih lama lagi. Ia mengambil serat bambu untuk mengganti benang dan akhirnya lampu listriknya men jadi sempurna. Penemuannya dapat kita rasakan seperti sekarang ini.

Penemuan Thomas Alva Edison yang lain diantaranya adalah telepon, dinamo, mesin bioskop, mesin stensil, dan kereta listrik. Thomas Alva Edison wafat pada tahun 1931.

B-D







absis